Traveling

Sebuah Perayaan Tentang Diri di Merbabu

Birthday Trip

Pagi itu pukul 9:00, sudah bersiap di depan laptop kerja. Aku mulai mengecek jadwal meeting di Google Calendar. Tepat di jam pertama, jam 10 dan jam 3 sore hari itu aku ada jadwal meeting. Lumayan sibuk rupanya. Untuk hari yang amat spesial, hari itu aku merasa biasa saja. Ya, hari itu aku berulang tahun. 27 September.

Di usia yang hampir menuju 30, aku merasa hari ulang tahun bukan suatu hari yang harus diperingati dengan hura-hura, tapi cukup bersyukur lebih dengan nikmat yang diberi oleh Tuhan. Tapi tetap saja, notifikasi handphone tak henti-henti muncul karena pesan masuk dari teman dan kolega serta notifikasi dari Instagram yang mention namaku di Instagram Story mereka untuk sekadar mengucapkan selamat.

Itu doa. Doa tulus. Aku aminkan semuanya.

“Tapi, harus ada yang bisa dikenang sih. Kemana ya enaknya?” Sebuah pikiran menarik yang terlintas. Entah kebetulan atau apa, notifikasi di Google Photo memberikan sebuah pop up kenangan foto ketika aku mendaki gunung Prau di Dieng, Wonosobo.

“Naik gunung kali ya.” Kebetulan lagi, Instagram seperti memberikan “sinyal” untuk mendaki gunung Merbabu. Hampir setiap postingan di explore waktu itu memperlihatkan indahnya gunung Merbabu.

Persiapkan Semua ke Merbabu

Mulai dengan mendaftarkan ke sebuah Open Trip (OT), aku dan kelima teman; Jaya, Ko Juan, Ko Adrian, Rara dan Vera, mulai mempersiapkan semuanya. Pendakian yang akan dilakukan tanggal 30 September itu, sempat menjadi momok buatku karena kondisi cuaca yang sedang sering buruk, ditambah kondisi tubuh yang mungkin berbeda dari pendakian aku 5 tahun lalu. Iya, berat badan yang tak lagi sama. 🙂

Persiapan fisik ringan yang aku lakukan juga hanya sekadar lari. Seminggu sekali. Iya sekali. Nekat. Persiapan peralatan juga gak seberapa. Kebanyakan peralatan yang aku bawa nanti kebanyakan pinjaman dari teman-teman yang sering mendaki.

Hari Pendakian Tiba

Bertolak dari Cawang di malam hari, aku dan para pendaki lain memulai perjalanan menggunakan mobil elf. Memakan waktu sekitar 7 jam hingga sampai pada pagi hari ke basecamp OT untuk bersiap mulai pendakian. “Ini pasti bakal seru!,” seru dalam hati.

Pendakian gunung Merbabu via Suwanting pun dimulai pukul 10 pagi, lancar hingga post pertama. Tanpa drama yang macam-macam. Hanya napas mulai gak karuan. Kuatin diri sendiri jadi kunci. Aku memang yang pilih birthday trip seperti ini, jadi ya harus diselesaikan mau gimana rintangannya.

Drama terjadi di perjalanan ke post dua. Yang dikhawatirkan mulai muncul. Cuaca mulai gak bersahabat. Hujan mulai turun, dari rintik-rintik sampai seperti ditumpahkan banyak air dari langit. Terpaksa jas hujan dikeluarkan untuk tameng seadaanya.

Pendakian ke post dua menjadi salah satu yang tersulit buatku. Ditambah dengan track yang licin dan becek serta medannya yang mulai buat istighfar sejauh kaki melangkah. Dari yang middle tracker, aku akhirnya masuk ke kelompok terakhir karena jalanku yang mulai melambat.

Rara dan Vera sudah di depan. Ko Juan dan Ko Adrian juga menyusul mereka. Aku ditemani Jaya dari belakang dan sesekali mendorong tubuh tambun ini ketika track vertikal yang licin. Drama lain muncul. Kaki mulai kerasa nyut-nyutan. Tapi Jaya terus support gak ninggalin.

Sampai di post dua. Tubuh gak karuan. Jujur, sempet pengen istirahat dan biarin Jaya duluan aja karena takut jadi beban, tapi kerennya dia gak mau. Setia kawan juga rupanya HAHA.

Tapi dari semua drama yang ada, menurutku drama yang sesungguhnya terjadi di perjalanan ke post tiga, di mana tempat kami nge-camp. Ko Adrian dengan muka masamnya karena kelelahan tanpa minum, Rara yang terpeleset di track tanjankan, dan aku yang kedinginan parah ketika sedikit lagi menuju post tiga.

Tiba di camp, yang dilakukan pertama kali setelah ganti baju dan masuk tenda adalah MAKAN. Laper banget! Dingin dan kelaparan adalah duo combo yang paling ngeselin sih emang. Merbabu via Suanting emang bikin sinting sih!

Pendakian ke Summit Merbabu

Pukul 4:30 pagi. Guide mulai memimpin kami untuk mendaki ke summit. Kaki yang nyut-nyutan membuat aku menjadi slow tracker. Bareng Ko Adrian, kami lebih memilih mendaki pelan-pelan. Alhasil, kami tertinggal dari rombongan. Tapi, karena gak ambis banget, jadinya kami terus mendaki dengan pace kami.

Sesampainya di Puncak Suwanting, jalur dengan medan luar biasa itu menyuguhkan panorama lansekap yang teramat keren. Di Puncak Suwanting, jujur aja, aku sempat panjatkan doa terbaik untuk diri ini. Minta diri ini sehat supaya bisa selesaikan perjalanan ini dengan baik. Dasar orangnya mellow, sedikit terharu adalah jalan ninjaqu~ ketika melihat kuasaNya terlihat sangat nyata. Panorama luar biasa ciptaanNya.

Gunung Merapi in frame
Sampai di Puncak Suwanting
Panorama Merbabu via Suwanting
Panorama di atas awan

Kami berenam bertemu hanya di Puncak Suwanting. Kemudian mereka lanjut ke puncak Merbabu. Aku stay di antaranya, bareng Maul, teman sesama peserta OT dari Bandung sambil ngobrol dan menikmati panorama gagahnya Gunung Merapi dari Puncak Suwanting. Kaki yang masih kerasa sakit membuatku gak mau terlalu ambil risiko, karena perjalanan turun masih dengan medan dan track yang sama.

Baca lainnya: Antara Canggu dan Rindu

Perjalanan Turun ke Basecamp

Pendakian yang memakan waktu 7 jam itu membuahkan pengalaman tak terlupakan. Akhirnya, pukul 12:30 siang, kami putuskan untuk turun. Setelah menunggu hujan reda, perjalanan turun pun ditemani track becek dan tanah liat yang basah. Dan tentu saja, hujan siang itu melanjutkan derasnya di pertengahan jalan.

Track yang begitu licin, aku dan rombongan bahkan sampai turun sambil merosot. Serunya dapat, sakitnya juga dapat. Sakit di kaki masih terasa tapi gak begitu mau dirasakan karena tumpuannya gak seberat ketika pendakian naik.

Kali ini, hampir kami semua turun dengan jarak yang gak begitu berjauhan. Setiap perjalanan turun itu, kami “berusaha” untuk membuat para pendaki yang baru naik untuk lebih baik turun lagi karena perjalanan di atas luar biasa bikin capek. Bikin semangat enggak, malah bikin down mereka HAHA.

Mungkin ini salah satu perayaan hari ulang tahunku yang gak akan terlupakan. Karena, aku gak cuma haha hihi nikmati hari berlalu tapi jadi punya pengalaman seru untuk diceritain di masa nanti. Jadi bisa lebih menghargai keadaan dan orang-orang yang terus bertahan di keadaan sulit, bahkan diajarin lagi sama Tuhan untuk terus bersyukur dengan semua nikmat dan kesulitan yang diberi.

Kalau ditanya mau naik gunung lagi? Hmm… Mungkin mikir-mikir dulu deh. HAHA.

Firdaus Soeroto

He is the second child of three children coming from a humble family background, and he is feeling blessed to be where and what he is today.

Related Articles

22 Comments

  1. Perjalanan naik gunung dan hujan memang jadi masalah tersendiri. Kalau sdah niat naik gunung mesti paham dengan segala kondisi cuaca yang ada. Badan mesti menyesuaikan dengan cuaca yang ada.

    Perjalanan yang menarik mas firdaus. Puncak emang bukan segalanya, yang terpenting pulang dengan kondisi sehat dan menikmati setiap momen yang ada.

  2. Haha.. kirain akhirannya lo mau ikut program olahraga, biar nanti selanjutnya pas hiking bisa lebih sat set sat set..
    Ternyata akhirannya plot twist, malah kapok hiking 😀

    Tapi emang ada banyak cara sih buat praktekkin hedonic adaptation kalo kata om Henry Manampiring yah, ga mesti harus lewat cara hiking aja..
    Banyak cara yang lain..

    Good post!

    1. HAHAH ya mungkin mau, tapiii agak jauh deh jaraknya buat hiking lagi.
      I see… Bener sih, gak harus hiking. Kemaren tu random aja picking tripnya mau ke mana.

  3. Sampai sekarang masih penasaran dengan gunung yang satu ini, dari foto foto yang bertebaran di media sosial memang indah sekali, semoga segera bisa kesana juga.

    Perjalananmu menarik sekali Mas Broo, Reward kepada diri sendiri di hari itu Ulang Tahun “Naik Merbabu” its Must be Special

  4. ‘Merayakan’ ultah dengan pendakian, asik juga ya. Sayapun nanjak merbabu dalam rangka tsb. Namun tidak saya info ke team. Mereka hanya bingung kok saya maksa banget di periode tgl tersebut.

    Pendakin merbabu dengan segala dramanya semoga menjadi kenangan khusus, seperti juga perayaan hut Mas Firdaus sebelumnya… Sehat-sehat ya, next nanjak lagi ya

  5. Pada hari ulang tahun memang dibutuhkan suatu kegiatan yang bisa membuat kita terkenang Mas. Dengan refleksi seperti itu lah otak kita akan terbiasa untuk melakukan refleksi di berbagai kesempatan lain yang membuat kita menjadi semakin terpahamkan bahkan atas hal hal kecil. Semoga suatu saat saya juga bisa ke Merbabu, hehe 🙂

  6. Perayaan ulang tahun yang beda dan seru. Pasti berkesan banget sih ini mah ya, dibandingkan dengan tiup Lilin. Selamat ulang tahun, Daus. Walaupun telat gapapa ya 🙂 Doa terbaik untuk Daus

  7. Selamat ulang tahun yang ke-30, Daus. Ternyata kamu mellow juga ya orangnya. Di Merbabu memandang ciptaan Tuhan sambil nangis ya? Keren sih, memilih naik gunung untuk merenungi diri di hari ulang tahun.

  8. Wah potonya cakep cakep ya, tapi sayang saya gak pernah dibolehin naek gunung, cukup trening santai. Semoga suatu saat bs dpt izin naek gunung hehe

  9. Huahahahaha…
    Gila sih perjalannya…
    Paham bgt naik gunung dg modal nekat tuuuh sesuatu bgz, ditambah badan yg makin tambun.
    Ditinggal takut, ditemenin berasa nyusahin.

    Congratz akhirnya bisa berhasil turun dg selamat, nambah 1 hari umur kehidupan, nambah juga bahagianya di hati. Semoga perjalanan ke tahun hidup selanjutnya bisa seseru perjalanan ke Merbabu yaaaaak….

  10. Perlu memang memberi sesuatu yang baru ke diri sendiri. Biar bisa lebih banyak lg tau ttg diri sendiri dan lebih banyak bersyukur.

    Merbabu beneran indah yaa. Makin pengen segera kesana.

  11. Yay! Mau ucapin selamat ulang tahun dulu ya..semoga mendapatkan semua yangvm terbaik yaaa..amin
    Byw, Gokil sih ide untuk kasih hadiah untuk diri sendirinya dengan mendaki gunung yang cukup tinggi juga mdplnya, meski keren namun rada nekat juga ya hehe..tapi selamat lg ya utk semangat, daya juang hingga rasa syukur sewaktu mendaki gunungnya, menjadi sebuah pengalaman sekaligus pelajaran yang berharga ya jadinya.
    Dan anyway, mendaki gunung memang bukanlah hal yang mudah meski dapat dilakukan dan ditaklukan juga(sangat perlu persiapan ini dan itu), setuju banget aku tentang mendaki gunung dan perjuangannya. Jangan kapok untuk naik gunung lagi yaaaaa..hahaha
    Keep it up!!

  12. Naik gunung tuh salah satu impian w banget tau kak, setiap ultah. Tapi sadar diri juga klo gak bakal mampu Hahahaha.

    Selalu suka baca tulisan pengalaman ormag lain saat naik gunung, seruu bangett meski drama banyak ya. Btw aku ucapin lg ya, happy b’day kak daus.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button