Lifestyle Traveling

Kehidupan Perempuan Bali dan Kesetaraan Gender di Bali

on
6 March 2020

 

Sebagai umat yang beragama, tak jarang kita mendengar kalimat “Tuhan Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil”. Lantas, kalau Tuhan saja Maha Adil, bagaimana peran antara laki-laki dan perempuan? Sudah seadil itu kah?

Salah satu perjalanan yang paling berkesan adalah ketika melakukan perjalanan pertama kali ke Bali sekitar dua tahun lalu. Perjalanan gue ke Bali kala itu, mempertemukan gue dengan banyak banget pelajaran. Jujur, banyak hal baru yang gue dapet.

Salah satu destinasi yang gue kunjungi ketika di Bali adalah Desa Panglipuran, yang berada di Kabutapen Bangli. Di sana gue bertemu dengan salah satu tokoh, Pak Made yang menjual beberapa pernak-pernik khas Bali. Obrolan gue dengan Pak Made ini lah memberikan info tentang kesetaraan gender di Bali.

Perempuan Bali itu Perempuan Perkasa

Terkenal dengan perempuan perkasa, perempuan Bali ternyata tidak hanya mengerjakan tugas seorang perempuan saja tapi pekerjaan laki-laki juga. Sebelumnya, gue sering banget melihat perempuan Bali yang menjadi tukang parkir bahkan sampai buruh angkat pasir. Awalnya menganggap itu dilakukan mungkin salah satunya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi saja, tapi kok dilihat-lihat makin sering melihat perempuan Bali yang bekerja pekerjaan berat. Hmm…

“Perempuan Bali itu selain ngerjain pekerjaan rumah tangga, mereka juga disibukkan dengan kegiatan upacara adat yang banyak” itu salah satu kalimat Pak Made yang masih gue inget sampai sekarang. Lah terus, kerja laki-laki Bali apaan aja dong? Itu sih yang jadi pertayaan gua pertama kali ketika mendengar dan melihat itu.

Banyak anggapan yang gue dengar, kalau laki-laki Bali digambarkan hanya duduk saja dan mabuk-mabukan. Yah… Kalau gue lihat sih memang banyak yang begitu tapi gak semua. Rupanya, Pak Made cerita kalau sebenarnya tugas laki-laki dan perempuan Bali itu cukup seimbang. Yang membuat perempuan Bali bekerja keras adalah memang secara budaya telah diajarkan sejak kecil untuk bekerja keras. Seperti menghaturkan sesajen, memasak, sampai bekerja.

Gender dalam Pandangan Hindu

Obrolan gue dan Pak Made berlanjut hingga menyinggung tentang hidup beragama di Bali. Bali yang mayoritas beragama Hindu Bali, memiliki perbedaan denga Hindu seperti biasanya. Info yang gue dapat dari Pak Made adalah, di Bali mereka akan melakukan sembahyang rutin tiga kali sehari, yaitu di setiap pagi hari, siang hari dan sore hari menjelang malam.

Obrolan lainnya juga akhirnya menyerempet mengenai gimana sih konsep gender di dalam pandangan agama Hindu. Rupanya mereka memandangnya lebih ke kewajiban yang harus dilakukan oleh masing-masing individu itu sendiri seperti yang sudah dikodratkan oleh kepercayaan mereka.

Hindu percaya bahwa manusia terlahir tidak sempurna, baik itu laki-laki maupun perempuan. Kesempurnaan akan terjadi apabila keduanya saling bekerja sama dengan harmonis. Hindu mengajarkan antara perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang sama. Mereka saling mendukung, saling menghargai, saling melengkapi satu dengan yang lain.

Tapi gimana kenyataannya?Salah satu jurnal yang pernah gue baca tentang studi kultural mengenai agama Hindu di Bali, menjelaskan bahwa kehidupan Masyarakat Bali yang memeluk agama Hindu Bali memiliki pandangan hidup yang sangat dipengaruhi dengan kebudayaan Bali dan agama Hindu itu sendiri.

Perempuan di Bali, khususnya mengenai adat di Bali, masih sangat kontras dengan kesetaraan gender. Yah mungkin karena Bali yang menganut hukum partriaki, di mana memandang laki-laki berada di atas daripada perempuan.

Rupanya, hal ini nih yang tentunya terkait banget dengan perlakuan adat istiadat yang mungkin mengatur kehidupan masyarakat Bali yang masih belum mencerminkan kesetaraan gender.

Salah satu kenyataan yang ada di Bali yang gue dengar dari Pak Made adalah, ketika menikah, perempuan Bali sepenuhkan akan menjadi hal milik laki-laki bahkan keluarga laki-laki. Bahkan sejak kecil perempuan Bali sudah dibentuk dan dipersiapkan untuk menjadi miliki keluarga lain.

Dari pembagian warisan, perempuan yang sudah menikah makan ia akan dihapus dari daftar pembagian wariasan keluarganya sendiri. Sementara, warisan pihak laki-laki akan tetap menjadi milik si suami dan nantinya akan diwariskan ke anak laki-lakinya lagi.

Hmm… Budaya di Bali ini emang menarik ya. Mungkin perempuan Bali enggak merasa kalau mereka rupanya mengalami ketidaksetaraan gender karena budaya yang telah mengikat dari leluhur. Obrolan gue dan Pak Made akhirnya ditutup dengan membeli gelang Tri Datu buatan beliau dan “kenyangnya” otak gue dengan pelajaran yang dikasih.

TAGS
RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.