Traveling

Batu Caves, Tempat Wisata Ikonik dan Bersejarah di Malaysia.

“Akhirnya ke Malaysia lagi…” Kira-kira begitulah yang ada dibenak saya ketika tiba di Kuala Lumpur Int’ Airport. Setelah 4 tahun lalu traveling ke Malaysia, itu pun karena dapat reward dari kampus, akhirnya bisa menginjakkan kaki lagi di Negeri Nasi Lemak itu. Ya, perjalanan di cerita ini menjadi kali kedua saya pergi Malaysia. Perjalanan pertamanya waktu itu, sebetulnya, lebih seperti study tour yang diberikan kampus, yang membuat saya dan rombongan lebih mengunjungi berbagai kampus di sana dan saling belajar dan berbagi antar dua bangsa dengan satu rumpun. Beruntung sekali, saya mendapatkan banyak teman baru di “study tour” kala itu.

Kali ini saya akan berbagi cerita perjalanan saya ke salah satu tempat yang ikonik dan bersejarah di Malaysia, yaitu Batu Caves. Sebuah gua dengan stalgmitnya yang keren banget. Perjalanan itu saya lakukan 19 Agustus tahun ini. Dengan segenap persiapan yang mungkin tidak terlalu gimana-gimana, saya memulai perjalanan dengan hati yang sudah pasti senang. Ya iya lah… Namanya juga jalan-jalan, I mean, siapa yang gak seneng?! Pagi-pagi buta saya berangkat ke Bandara Soekarano-Hatta, karena takut ketinggalan pesawat yang akan take off 5:30 WIB, saya putuskan berangkat jam 2:00 dini hari. Dan tidur di sana.

Panorama Dalam Gua Batu Caves

Handphone bergetar dan berkumandang suara adzan dari aplikasi Muslim Pro, menunjukkan waktu sholat subuh akan segera dimulai. Rasanya ingin berterima kasih dengan adzan dari aplikasi itu, kalau tidak, mungkin saya gak akan terbangun dari tidur pulas dan ketinggalan pesawat. Setelah ibadah subuh, saya bersiap dan menunggu di antrean untuk boarding ke pesawat. Alhamdulillah 5:30 WIB tepat, Air Asia membawa bertolak ke Kuala Lumpur, Malaysia.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 8:30 waktu Malaysia, saya tiba dengan selamat di bandara KLIA2. Malaysia memiliki selisih waktu 1 jam lebih cepat dari Indonesia. Dan pagi itu saya putuskan untuk sarapan dulu di bandara sebelum berangkat ke hotel, sekaligus menunggu kawan-kawan lain tiba. Yap, saya gak sendirian untuk traveling wktu itu, ada Bang Arfen, Bang Jija, Bang Puput dan Kiki yang mana kami pergi dengan pesawat berbeda. Nasi Lemak dengan ayam goreng menjadi menu pilihan yang tepat dan lumrah untuk sarapan di sana. Setelah yang lain tiba, saya dan yang lain siap meluncur ke hotel untuk mandi dan meletakkan barang bawaan.

Dengan harga tiket RM12 kami tumpangi bus menuju ke pemberentian terakhir dari bus itu, KL Sentral. KL Sentral adalah daerah di mana hotel yang kami booking berada. KL Sentral juga menjadi tempat yang sangat strategis untuk para wisatawan mancanegara yang ingin merasakan pusatnya kota Kuala Lumpur, jadi kalau mau kemana-mana ya enak, karena berada di tengah-tengah.

Tiket Bus dari KLIA2 ke KL Sentral

Hanya sekitar 30 menit kami tiba di terminal bus KL Sentral dan kami lanjutkan berjalan kaki ke hotel, karena jaraknya hanya sekitar 300 meter dari terminal bus KL Sentral. Sampai di sana, untungnya, kami tak harus menunggu lama untuk waktu check-in. Pihak hotel mengizinkan kami check-in lebih awal. Kami mandi dan bersiap untuk mengeksplor Kuala Lumpur.

 

Siang kala itu di Kuala Lumpur tak begitu panas. Karena sedang musim hujan, jadi cuaca sering banget diliputi awan-awan mendung yang membuat udara nyaman dan enak banget untuk jalan-jalan. Kami putuskan makan siang terlebih dahulu dekat hotel, setelah itu kami langsung menuju KL Sentral Station.

Eskalator Menuju NU Sentral Mall yang Bersebelahan dengan KL Sentral Station

Seperti yang saya bilang tadi, KL Sentral itu kemana-mana kayaknya deket, jadi kami tak perlu jalan jauh untuk sampai ke KL Sentral Station. Hari itu, kami akan mengeksplor salah satu tempat yang ikonik dan bersejarah di Malaysia, yaitu Batu Caves. Tidak bisa dipungkiri, keadaan yang cukup ramai untuk sebuah stasiun kereta yang berada di pusat kota, sama seperti di Indonesia. Tak mau menghabiskan waktu lama, kami kemudian memesan tiket kereta dengan harga RM2,6 untuk sampai ke Batu Caves Station.

Koin Tiket untuk Masuk ke Platform Kereta
Suasana di KL Sentral Station

Pengalaman baru saya dapatkan waktu memesan tiket kereta pertama kali dengan vending machine. Norak banget sih memang, tapi untungnya gua cepet belajar, jadi bisa-bisa aja sih. 5 tiket berbentuk koin plastik itu kami miliki untuk membuka pintu masuk platform kereta. Kereta datang datang pukul 15:52 waktu Malaysia, kami bergegas masuk gerbong dan siap untuk berangkat menuju Batu Caves.

Vending Machine untuk Membeli Tiket di Train Station

Sekitar kurang lebih 30 menit, kami tiba di stasiun terakhir, Batu Caves Station. Ketika kami keluar dari stasiun itu, suasana di sana dipenuhi dengan ornamen-ornamen India dan agama Hindu. Tidak heran, karena Batu Caves adalah tempat wisata yang menyuguhkan keindahan alam yang menakjubkan sekaligus tempat wisata religi bagi umat Hindu di Malaysia bahkan di dunia.

Berjalan sekitar 100 meter dari pintu masuk kawasannya, kami tiba di pintu masuk gua dari Batu Caves tersebut. Biaya masuk ke kawasan Batu Caves ini gratis, kecuali kalau kalian mau masuk ke gua-gua lainnya yang, bisa dibilang, lebih private, seperti Villa Cave, Ramayana Cave, Dark Cave dan lain-lainnya, kalian harus membayar RM15 – RM35.

Sesampainya di tempat, kalian akan disambut dengan patung raksasa bernama Dewa Muragan. Patung berwarna emas ini memiliki ketinggian sekitar 42 meter yang membuatnya sangat eye catching. Gua Candi ini memiliki 272 anak tangga (Insya Allah kalo gua gak salah itung… Gak deng becanda, gua dapet infonya dari Google), yang walaupun naiknya bakal melelahkan tapi coba lah untuk sampai ke atasnya, karena di dalamnya amat begitu keren. Harus hati-hati juga selama di sana dan selama menaiki tangganya, selain agak curam banyak juga monyet-monyet yang walupun katanya jinak tapi tetap saja kadang sering mengambil barang bawaan pengunjung.

Kelelahan ketika naik anak tangga itu, terbayar dengan stalagmit yang terjuntai indah secara alami. Bulan Agustus kemarin, ketika saya ke sana, ada beberapa candi yang sedang diperbaharui. Untuk menghormati, kami tidak bergitu berkeliling ke dalam sekali dari gua itu.

https://www.instagram.com/p/Bmu47UQlFm8/

Monumen ikonik ini mengabungkan kedua hal menakjubkan, yaitu pegunungan batu kapur dan patung-patung religius dari umat Hindu. Berdasarkan sejarahnya, menjelang tahun 1860-an, ketika Malaysia mulai tumbuh sebagai negara berkembang di bawah pemerintahan kolonial, imigran dari Tiongkok banyak berdatangan untuk bekerja dan mencari kotoran burung dan keleawar dari gua-gua untuk pupuk.

Pada tahun 1870-an, sebuah gua menarik perhatian penguasa kolonial Inggris dan bahkan naturalis Amerika, William Hornaday (yang terkenal sebagai direktur pertama Taman Zoologi New York). Pada tahun 1891, mulai terjadi ledakan pengunjung pada situs tersebut, di antaranya adalah pedagang India dan pendiri kuil, K. Thamboosamy Pillai. Terpesona oleh mulut gua yang sangat mirip dengan ‘vel’ atau kepala tombak dari surga, lalu Pillai memperjuangkannya untuk dijadikan sebagai tempat pemujaan bagi dewa perang Hindu yang membawa tomba surgawi yaitu Dewa Murugan.

Dewa Murugan adalah Dewa Hindu yang terkenal di kalangan orang Tamil di negara bagian Tamil Nadu di India, dan Sri Lanka. Dia merupakan Dewa perang dan pelindung negeri Tamil.

Tempat wisata ikonik dan bersejarah ini adalah gua candi yang lekat sekali dengan agama Hindu yang sangat berhasil membuat saya sendiri takjub. Kamu, harus ke Batu Caves dan buktikan sendiri keindahannya.

Firdaus Soeroto

He is the second child of three children coming from a humble family background, and he is feeling blessed to be where and what he is today.

Related Articles

54 Comments

  1. Hemm..suka banget baca tulisan kakak tentang Batu Caves. Paduan antara Hindu dan gua dengan stalagmit yang mengagumkan. Setiap jalan ke daerah, selain rumah2 ibadah, gua adalah destinasi prioritas saya, walaupun beberapa Kali saya mengalami accident di dalam gua.

    1. Harus lebih hati-hati lagi kalau main ke gua dan semua tempat sih… Terima kasih udah mampir ke blog, ya!

  2. Belum pernah ke Batu Caves, niat foto di depan patungnya aja dan ga usah naik tangga, tapi kok keliatan sia-sia banget. Sementara ini perbanyak baca cerita traveling orang lain dulu deh.

    1. Kalau naik kereta sepertinya habisini waktu 30 menitan dari hotel di KL Sentral, tapi kalau naik kendaraan umum bisa habiskan 1 jam.

  3. Tempat yang ga pernah dilewatkan tiap ke KL. Aku pun kalau ke KL pasti stay di KL sentral atau Masjid Jamek. Btw, lihat di IG tangga2 di Batu Caves sekarang dicat warna warni bagus banget, waktu Daus ke sana belum kali ya soalnya foto tangganya belum warna warni

    1. Iya Kak Yun, waktu ke sana belum di cat. Pas udah semingguan dari sana eh mereka baru ngecat tangga-tangganya.

  4. Monyetnya iseng. Apa emang gitu ya hobby monyet.. ahahhaha. Pernah dulu makananku diambil padahal aku baru makan dikit banget.. kesel deh

  5. Belum pernah ke KL saya..pernah dua tahun lalu ke Johor Bahru ajak anak ke Legoland.
    Batu Caves masih di bucket list..semoga segera..keren ternyata memang yaa. Sementara siap-siap kaki dulu biar kuat naik tangga 😀

  6. Ternyata kece banget yah dalam guanya. Pernah ke batu caves tapi cuma foto-foto di depan patung aja, karena rasanya ngga sanggup naik tangganya. Tapi kalau isinya sebagus itu kayak lain kali harus dibela-belain naik

  7. Wah komen saya sebelumnya, sepertinya gak muncul.
    Soal vending machine, sepertinya saya juga gak begitu familiar dengan alat ini, walaupun sudah banyak alat terdapat di pusat keramaian di Jakarta

    1. Tiap tiap negara sama aja sebenarnya, tapi petunjuknya aja yang beda-beda, terutama bahasanya yang beda hehehe.

  8. Infonya bermanfaat sekali.. taun depan insya Allah pengen jalan ke Malaysia.
    Daus ke malaysia nggak ke batu caves doang kan? Ditunggu lanjutan ceritanya ya. Bisa jadi tambahan info saya buat bikin ittin.. hehhe..

  9. Sepertinya tempat ini populer banget ya, Kak? Enggak menyangka ternyata banyak nilai religi dan keindahan lain yang tersimpan di tempat ini. Terima kasih sudah berbagi pengalaman!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button